Berbagai Khasiat Daun Kelor (Edisi Lengkap)


Untuk belanja madu murni, madu herbal, dan obat-obatan herbal alami lainnya,
silahkan klik http://herbal-online.web.id/toko

Berikut ini berbagai khasiat daun kelor obat alami diabetes, menstabilkan gula darah penderita kencing manis, glaukoma, katarak, pembengkakan limpa, hepatitis, sakit kuning, dll. Bila Anda membutuhkan kapsul daun kelor, klik di sini untuk beli daun kelor kapsul siap minum.

Kelor Sejuta Khasiat

Dua tahun silam, Hartadi memang begitu gering. Jika berjalan ia merasa tak seimbang, tubuh miring, dan kerap jatuh. Bobot tubuh melorot tajam, 86 kg menjadi 60 kg, hanya dalam sebulan. “Saya tinggal kulit pembalut tulang,” kata ayah tiga anak itu. Semula dokter menduga, Hartadi mengalami gangguan saraf. Namun, tes darah menyibak biang kerok itu semua adalah kadar gula darah yang membubung: 600 mg/dl; kadar normal kurang dari 200 mg/dl.

Ahli medis geleng-geleng kepala melihat hasil tes itu. Ia heran, kadar gula darah yang menjulang, tetapi Hartadi tak pingsan. Mendengar diagnosis itu keluarga pasrah. Namun, Hendrik Christianto – anak sulung Hartadi – yang bekerja di Kabupaten Mimika, Papua, enggan menerima suratan itu. Ia mengirimkan empat botol berisi masing-masing 30 kapsul daun kelor kepada ayahnya di Karawang, Provinsi Jawa Barat. Hendrik terinspirasi seorang kenalan warga Mimika yang juga mengidap diabetes mellitus. Banyak bahan pangan yang mesti ia hindari jika hendak selamat.

Konsumsi Daun Kelor Awal Kesembuhan Diabetes

Penderita itu akhirnya menyantap sayur daun kelor Moringa oleifera hampir saban hari. Tanpa ia sadari, itulah jalan kesembuhan baginya. Bersandar pada kasus di Mimika Hartadi rutin menelan tiga kapsul dua kali sehari sebelum makan pada pertengahan 2010. Dua pekan kemudian ia merasakan perubahan: jalan relatif seimbang dan saat malam frekuensi berkemih turun drastis menjadi 10 kali – biasanya 20 kali per malam. Perkembangan itu sejalah dengan turunnya kadar gula darah menjadi 520 mg/dl.

Daun Kelor Sebagai Obat Diabetes

Hasil tes darah itu sangat menggembirakan Hartadi. Itulah sebabnya ia disiplin mengonsumsi kapsul daun kelor. Makin hari, kadar gula darah pria 59 tahun itu kian turun. Pengecekan terakhir pada 2 Juni 2011 menunjukkan kadar gula darah normal, 145 mg/dl. Kini tubuh Hartadi kembali padat berisi dan segar bugar. Meski begitu ia tetap mengonsumsi kapsul daun tanaman anggota famili Moringaceae itu. Dosis berkurang, hanya dua kapsul per hari.

Kelor terbukti tokcer mengatasi diabetes mellitus. Bukti empiris itu sejalan dengan hasil penelitian Jaiswal Dolly. Periset dari Departemen Kimia Universitas Allahabad, India, itu membuktikan ekstrak kelor lebih efektif menurunkan kadar gula darah daripada Glipizide, obat yang biasa direkomendasikan dokter untuk mengatasi kencing manis. Dalam riset tikus diabetes mellitus itu semula berkadar gula darah 300 mg/dl. Namun, setelah mengonsumsi 300 mg ekstrak daun kelor, kadar gula darah puasa 90 mg/dl pada hari ke-21.

kapsul daun kelor

Daun Kelor Menstabilkan Gula Darah Penderita Diabetes

Maria Sumartini merasa bagai tanpa tulang, mudah letih. Membereskan pekerjaan rumah sebentar saja, ia cepat lelah. Oleh karena itu ia lebih sering duduk beristirahat daripada mengerjakan pekerjaan rumah. ‘Pekerjaan rumah memang tetap bisa diselesaikan, tapi jika rasa capai datang, mau tidak mau harus menghentikan kegiatan dan beristirahat,’ kata Sumartini.

Keadaan dua tahun lalu itu mendorong Sumartini memeriksakan diri ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Airmadidi, Manado, Sulawesi Utara. Biang keladi mudah lemasnya tubuh perempuan yang saat itu berusia 59 tahun akhirnya terkuak. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Maria Sumartini positif diabetes mellitus. Kadar gula darah 384 mg/ml; kadar gula sewaktu normal, 120 mg/dl.

Daun kelor dan kadar gula darah

Menurut dokter di Rumahsakit Pusat Pertamina Jakarta, dr Asep Saepul Rohmat SpPD, diabetes mellitus terjadi karena adanya kenaikan gula darah dalam pankreas. Kenaikan itu akibat gangguan metabolisme secara kronis produksi insulin dalam pankreas yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. ‘Insulin diproduksi tubuh sesuai kebutuhan dan asupan makanan,’ kata dr Asep.

Insulin berguna untuk memasukkan kadar gula darah ke dalam sel tubuh. Penderita diabetes mellitus biasanya mengalami proses produksi insulin yang berkurang dan fungsi insulin yang menurun. Untuk mengatasi diabetes mellitus, dokter di Puskesmas pun memberikan 2 jenis obat. Sumartini mengonsumsi obat itu 3 kali setiap hari. Hasilnya kadar gula darah Sumartini memang turun menjadi 260 mg/dl sebulan kemudian.

Meski demikian, ia tetap rutin mengonsumsi obat dari dokter, memeriksa kadar gula darah 30 hari berselang, dan hasilnya tetap, kadar gula darah di atas normal. Itulah sebabnya ia memenuhi saran anak pertamanya di Timika, Provinsi Papua, untuk mengonsumsi rebusan daun kelor. Pada awal 2010 Maria Sumartini mulai merebus segenggam daun kelor dalam 3 gelas air hingga mendidih, dan tersisa 1 gelas. Air rebusan daun Moringa oleifera itu ia minum sekaligus. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari.

Sepekan pertama mengonsumsi, ia lebih bugar. Lelah dan lemas menghilang. ‘Tubuh terasa enteng dan segar,’ kata Sumartini. Sebulan rutin minum rebusan daun kelor, hasilnya menggembirakan. Kadar gula darah Sumartini turun menjadi 195 ml/dl. Pada bulan-bulan berikutnya ia tak lagi merebus daun anggota famili Moringaceae itu, tapi mengonsumsi 2 kapsul ekstraksi daun 3 kali sehari.

Maria Sumartini rutin memeriksakan kadar gula darah setiap bulan. Pengecekan terakhir pada pertengahan Januari 2011, kadar gula Sumartini 145 mg/dl. Selama ia disiplin mengonsumsi kapsul daun kelor, kadar gula darahnya selalu di bawah 200 ml/dl. Perempuan 62 tahun itu memang menjalankan gaya hidup sehat seperti meninggalkan kebiasaan menyeruput segelas teh manis dengan gula biasa. Ia selalu menggunakan gula khusus bagi penderita kencing manis.

teh-herbal-kelor

Setara glibenklamid

Sumartini kini merasa fit sehingga dapat mengunjungi sanak-saudaranya di berbagai daerah hingga ke Papua.

Bagaimana cara kerja daun kelor dalam membantu menormalkan kadar gula? Para herbalis jarang meresepkan kelor kepada para pasien penderita diabetes.

Herbalis di Depok, Jawa Barat, Mahendra, lebih sering meresepkan brotowali, ciplukan, mimba, dan sambiloto untuk mengatasi penyakit itu. Menurut Mahendra kelor bisa membantu penyembuhan radang sendi dan nafsu makan.

Produsen herbal di Malang, Jawa Timur, Muslihudin, mengatakan daun kelor mengandung nutrisi lengkap yang tidak dimiliki oleh tanaman lainnya. ‘Selain untuk menjaga kesehatan, banyak penelitian di India yang membuktikan khasiat kelor sebagai antidiabetes,’ kata Muslihudin. Peneliti di Jhunjhunwala College, Mumbai, India, Dr Daoo Jayeshree, membuktikan daun kelor memberikan efek signifikan untuk mengatasi diabetes mellitus.

Ia menginduksi tikus dengan 45 mg intraperitoneal tunggal sereptozotocin per kg bobot badan sehingga mengidap diabetes. Kemudian Jayeshree memberikan 300 mg ekstrak daun kelor per kg bobot badan selama 35 hari secara oral. Hasilnya ekstrak daun kelor sebanding dengan pemberian 5 mg glibenklamid per kg bobot badan. Glibenklamid berfungsi meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. (Endah Kurnia Wirawati)

Daun Kelor Sembuhkan Splenomegali (Pembengkakan Limpa)

Daun kelor bukan hanya mujarab mengatasi penyakit yang namanya berasal dari dokter di Yunani, Aretaeus (30 – 90) itu (bahasa Yunani: diabainein = pancuran, mellitus = manis). Faktanya banyak pasien beragam penyakit merasakan khasiat tanaman dari India utara itu. Damar Novaldi – bukan nama sebenarnya – misalnya, pada Maret 2011 merasakan sakitnya splenomegali. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Universitas Airlangga, dr Arijanto Jonosewojo SpPD, splenomegali adalah pembengkakan limpa.

“Gangguan fungsi hati seperti sklerosis hati atau kanker hati dapat menyebabkan splenomegali,” kata Arijanto. Penyakit itu dapat mengakibatkan kematian bila organ di belakang lambung sepanjang 12 cm itu pecah. “Saya pasrah. Istri dan ibu juga merasa terpukul,” kata Damar Novaldi setelah mendapat diagnosis itu. Akibat penyakit itu, punggung sakit bukan kepalang, meski tersentuh sedikit saja. Nyeri hebat juga ia rasakan di ulu hati. Kondisi itu membuat Damar serbasalah: tidur miring sakit, telentang pun nyeri.

“Kelor bersifat segelas. Hasil rebusan itulah yang ia minum rutin dingin, tidak dicampur dengan herbal panas, (sereh) karena melemahkan fungsi masing-masing bahan. Perpaduan daun kelor, kunyit, dan daun sembung mempercepat regenerasi sel,”

dr Sidi Aritjahja

Menurut Arijanto sakit punggung dan ulu hati itu karena limpa membengkak dan mengalami penekanan sehingga mempengaruhi saraf-saraf organ di sekitarnya. Sepekan opname di rumahsakit di Jakarta Selatan, intensitas sakit memang berkurang. Namun, setelah kembali ke rumah, pria 32 tahun berbobot 86 kg dan tinggi 169 cm itu merasa nyeri lagi. Oleh karena itu ia patuh saat ibu menyarankan untuk menemui Valentina Indrajati, herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Ketika itulah Valentina meresepkan beragam herbal seperti daun kelor, rimpang bangle, dan daun jati belanda – semua dalam bentuk serbuk berbobot masing-masing 10 gram. Damar merebus herbal dalam dua gelas hingga mendidih dan tersisa segelas. Hasil rebusan itulah yang ia minum rutin dua kali sehari. Pada awal Juli 2011 setelah tiga bulan konsumsi herbal, ia memeriksakan kondisi kesehatan.

“Pinggiran limpa yang semula menghitam, kembali normal berwarna ungu gelap. Limpa juga sudah tak membengkak,” kata Damar yang girang bukan main. Menurut Valentina yang meresepkan daun kelor sejak 2005, kelor memperbaiki fungsi hati yang berhubungan dengan pencernaan dan detoksifikasi. Selain itu kelor juga kaya antioksidan untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Ketika kondisi tubuh sehat ibarat benteng yang kokoh, sehingga mampu melawan serangan penyakit.


Gambar: fitzania.com

Daun Kelor Obat Herbal Berbagai Penyakit

Setahun terakhir, kelor Moringa oleifera (sinonim Guilandina moringa) memang naik daun. Indikasinya antara lain kian banyak pasien yang memanfaatkan kelor. Damar Novaldi dan Hartadi hanya sebagian kecil yang merasakan khasiat daun kelor. Kelor juga mujarab mengatasi beragam penyakit lain seperti hepatitis, hiperlipidemia alias kolesterol tinggi, dan jantung. Pemanfaatan kelor sebagai herbal “tak terdengar” bila dibandingkan brotowali Tinospora crispa, sambiloto Andrographis paniculata, atau temuputih Curcuma zedoaria.

Selama ini daun kelor identik dengan dunia magis, untuk membuang kesaktian seseorang menjelang ajal. Biji klenthang alias polong kelor populer sebagai penjernih air. Namun, siapa sangka di balik itu semua daun kelor manjur sebagai panasea alias obat untuk beragam penyakit. Riset ilmiah mendukung kuat bukti empiris itu.

Daun Kelor Sembuhkan Hepatitis C

Setahun lalu Valentina kedatangan pasien hepatitis C. “Matanya menguning, kulit tubuhnya juga kuning,” kata herbalis yang kerap mengajar yoga di India dan Thailand itu.

Herbalis itu meresepkan kelor dan beberapa tanaman herbal lain seperti sambiloto dan pegagan kepada penderita berusia 16 tahun itu. Setelah rutin mengonsumsi rebusan serbuk daun kelor, ia akhirnya sembuh sehingga batal opname di rumah sakit. Periset dari Anna Technology University, Tamilnadu, India, C Senthil Kumar, membuktikan bahwa salah satu khasiat daun kelor adalah sebagai hepatoprotektor alias pelindung hati.

Menurut dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, kelor mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan sangat bagus untuk penyakit yang berhubungan dengan masalah pencernaan, misalnya luka usus dan luka lambung. “Bagian apa pun yang dipakai aman asal memperhatikan caranya,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Minumlah rebusan daun kelor selagi air hangat. Sebab, efek antioksidan masih kuat dalam keadaan hangat. Menurut dr Paulus Wahyudi Halim di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kelor memiliki energi dingin. Herbal seperti itu cocok untuk mengatasi penyakit dengan energi panas atau kelebihan energi seperti radang atau kanker.

Serba ada

Begitu dahsyatnya khasiat daun kelor mengatasi aneka penyakit. Harap mafhum, daun pohon stik drum itu memang mengandung senyawa aktif dan gizi lengkap (lihat infografis) Ahli gizi dari Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Dr Mien Karmini, mengatakan, “Konsumsi asam amino terlalu banyak, efeknya tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, kerja ginjal lebih berat karena asam amino dikeluarkan melalui ginjal. Bila asam amino berasal dari nabati, kemungkinan ginjal bekerja ekstra lebih rendah daripada asam amino dari hewani.”

Kandungan Senyawa Aktif Daun Kelor


gambar: http://daunkelor.org/

Beberapa senyawa aktif dalam daun kelor adalah arginin, leusin, dan metionin. Tubuh memang memproduksi arginin, tetapi sangat terbatas. Oleh karena itu perlu asupan dari luar seperti kelor.

Kandungan arginin pada daun kelor segar mencapai 406,6 mg; sedangkan pada daun kering, 1.325 mg. Menurut Dr Mien Karmini, arginin meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh. Di samping itu, arginin juga mempercepat proses penyembuhan luka, meningkatkan kemampuan untuk melawan kanker, dan memperlambat pertumbuhan tumor.

Sementara kandungan metionin pada daun kelor yang kadarnya mencapai 117 mg pada daun segar dan 350 mg (kering) mampu menyerap lemak dan kolesterol. Oleh karena itu, metionin menjadi kunci kesehatan hati yang banyak berhubungan dengan lemak. Kekurangan metionin menyebabkan beragam penyakit seperti rematik kronis, sirosis, dan gangguan ginjal. Kadar valin dalam daun segar 374 mg atau 1.063 mg (kering) berfungsi dalam sistem saraf dan pencernaan. Perannya antara lain membantu gangguan saraf otot, gangguan mental, emosional, dan insomnia.

Tubuh juga memerlukan leusin karena tak mampu memproduksi sendiri.
Kandungan leusin pada Daun kelor segar mencapai 492 mg, berperan dalam pembentukan protein otot dan fungsi sel normal. “Leusin sangat penting untuk pertumbuhan sel sehingga anak-anak dan remaja mutlak memerlukannya. Ambang batas kebutuhan leusin adalah 55 mg per g protein,” kata Mien Karmini.

Itu hanya sebagian kecil senyawa aktif pada daun kelor. Padahal, selain daun, bagian lain pada tanaman itu juga tak kalah berkhasiat. Kulit batang Moringa oleifera, umpamanya, berkhasiat anti-tumor (baca Pucuk Sampai Akar Manjur halaman 20 – 21). Pantas bila kini makin banyak herbalis yang meresepkan daun kelor.

Daun Kelor untuk Hiperlipidemia dan Pendarahan

Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, misalnya, meresepkan daun kelor untuk para pasien beragam penyakit seperti hiperlipidemia dan pendarahan.

Lina memberikan kelor kepada Asih Susilowati yang keguguran. Peran kelor membantu produksi sel darah merah akibat kehilangan darah saat keguguran, memperkuat rahim, dan saluran indung telur. Sebulan setelah rutin mengonsumsi rebusan daun kelor, Asih hamil. Ia melahirkan dengan selamat sembilan bulan kemudian. Herbalis di Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, Wahyu Suprapto, sepakat bahwa kelor bagus bagi penderita pendarahan seperti Asih dan anemia. Kandungan zat besi kelor sangat tinggi, yakni 28 mg per 100 gram bahan.

Daun Kelor Mengobati Hepatitis B

Tak biasanya usai donor darah, Budi Sarosa letih dan lemah. “Setelah donor badan malah terasa lemah,” ujar Budi. Padahal, sudah lebih dari
10 kali donor darah ia tak merasakan keluhan apa pun. Mantri kesehatan yang bertugas sampai mengingatkan Budi untuk segera berobat, karena tak seperti biasanya pria berusia 64 tahun itu tampak lemah setelah mendonorkan darahnya pada Desember 2001.
Itulah sebabnya Budi bergegas memeriksakan diri ke dokter. Setelah menjalani beragam pemeriksaan, dokter mendiagnosis Budi positif menderita hepatitis B. Sayang, ia lupa kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase dan Serum Glutamic Piruvic Transaminase (SGOT/SGPT) ketika itu. Kadar SGOT dan SGPT orang sehat berkisar 3—45 unit per liter dan 0—35 unit per liter. Dokter menyarankan Budi untuk banyak istirahat.
Ketika seorang rekan menyarankan untuk mengonsumsi herbal dari Tiongkok, ia pun patuh. Setelah mengonsumsi ramuan itu hingga tiga botol—masing-masing berisi 60 kapsul—kondisi kesehatan Budi memang membaik. Indikasinya, ia mulai bertenaga. Namun, sebulan berselang, ia kembali lemas ketika konsumsi herbal berhenti.

Gaya hidup
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari dua miliar penduduk dunia terinfeksi hepatitis B dan 170-juta penduduk dunia mengidap hepatitis C. Angka kematian kedua jenis hepatitis itu masing-masing 250.000 orang dan 350.000 orang per tahun. Indonesia menempati peringkat ketiga dunia untuk penderita hepatitis terbanyak setelah India dan Tiongkok. Diperkirakan 8% dari total jumlah penduduk atau sekitar 30-juta penduduk Indonesia menderita hepatitis.

Menurut dr Zen Djaja, dokter di Jakarta, hepatitis dapat disebabkan infeksi virus maupun kebiasaan hidup yang tidak baik, seperti konsumsi alkohol, obat terlarang, istirahat kurang, serta konsumsi lemak berlebih. Jenis hepatitis beragam, yakni hepatitis A, B, C, E, F, dan G akibat serangan strain virus yang berbeda. “Jenis yang paling banyak menyerang hepatitis A, B, dan C,” ujar dokter alumnus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta itu.
Gejala klinis yang menyertai penyakit ini demam, pusing, dan muncul warna kuning di seluruh tubuh, terutama di bagian sklera mata. Warna kuning itu akibat bilirubin—hasil penguraian sel darah merah mati—yang tidak tersaring. Oleh karena itu masyarakat menyebut hepatitis sebagai penyakit kuning. Jika gejala seperti itu muncul, sebaiknya pasien segera memeriksakan diri di laboratorium untuk memastikan jenis hepatitis yang menyerang. “Menjaga pola hidup, pola makan, serta olahraga bisa menjadi tindakan pencegahan hepatitis,” ujarnya.
Bobot tubuh Budi berkurang hingga 10 kg dari 86 kg menjadi 76 kg.

“Saya hanya pasrah,” kata ayah 5 anak itu. Tak tega melihat kondisi ayah mertua, Gatot Santosa menyarankan Budi mengonsumsi daun kelor pada 2008. Tanpa pikir panjang, pensiunan Badan Usaha Milik Negara itu pun menuruti saran menantunya. Budi mengonsumsi dua kapsul ekstrak daun Moringa oleifera itu 3 kali sehari.

Sepekan mengonsumsi ekstrak daun famili Moringaceae itu, kondisi Budi membaik. “Lemah tidak dirasa, nafsu makan meningkat dan tidur saya pulas,” ujarnya. Selain mengonsumsi ekstrak, Budi juga kerap mengonsumsi sayur daun kelor. Sejak rutin mengonsumsi ekstrak dan sayur daun kelor, Budi tidak merasakan lagi letih dan lemah. Meski demikian, ia tetap melanjutkan konsumsi ekstrak kelor 3 kali sehari masing-masing 1 kapsul untuk menjaga stamina.
Sayang, hingga kini Budi belum memeriksakan diri ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatan terakhir. Kadar SGOT/SGPT sebagai salah satu indikator hepatitis B, belum terdeteksi. Budi merasa nyaman dengan kondisi kesehatan terkini.

Daun Kelor Mengobati Glaukoma

Benderang Karena Kelor

tanaman+ki+tolod
Kitolod lazim dimanfaatkan untuk mengobati penyakit mata.

Ribuan butir pasir bak menyusup ke dalam dua bola mata Bambang. Ia pun mengeluh matanya perih dan gatal sehingga seringkali mengucek mata. Gangguan yang terjadi hampir setiap hari itu membuat matanya menjadi merah dan bengkak. Obat tetes mata yang diberikan dokter tak mempan mengatasinya. Justru kian lama penglihatannya semakin kabur. Kondisi itu keruan saja membuat seluruh keluarga khawatir.

Sang putri kesayangan, Tina —bukan nama sebenarnya— lalu membawa Bambang ke Rumah Sakit Mata dr Yap di Yogyakarta. Dokter mata di sana merujuk Bambang untuk menemui dokter spesialis mata yang ahli menangani glaukoma. Benar saja. Hasil pemeriksaan dokter, Bambang menderita penyakit penyebab kebutaan itu.

Operasi Katarak

Berdasarkan data Rumah Sakit Mata dr Yap, glaukoma penyebab kebutaan kedua setelah katarak yang lazim terjadi saat orang usia lanjut. Kebutaan memang tidak menyebabkan kematian, tapi bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Menurut peneliti dari Wilmer Institute, John Hopkins University School of Medicine, Amerika Serikat, HA Quigley jumlah pasien glaukoma di dunia pada 2000-an mencapai 66,8-juta orang. Di negara maju sebagian besar warganya mampu mendeteksi dini gejala penyakit itu. Sementara di negara berkembang baru bisa dideteksi setelah kondisinya memburuk.

Harap mafhum, gejala awal glaukoma mirip penyakit mata akibat iritasi seperti mata merah. Jika sudah akut penglihatan mulai kabur dan pasien biasanya mengeluh migrain dan jarak pandang yang pendek. Jika dibiarkan glaukoma dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Menurut dokter spesialis mata sub divisi glaukoma dari RS Mata dr Yap, dr Retno Ekantini SpM MKes, glaukoma disebabkan tekanan bola mata yang meningkat. Itu karena produksi cairan bola mata (humor akuos) berlebih atau tersumbatnya saluran pembuangan cairan (jaringan trabekula) karena tertutup oleh iris. Jika dibiarkan ukuran bola mata semakin besar sehingga menekan pembuluh darah pada saraf mata.

Itulah yang dialami Bambang. Pascaoperasi katarak pada 2008 matanya malah sering perih dan gatal. Hasil pemeriksaan dokter tekanan bola mata kanan pascaoperasi katarak mencapai 30 mmHg, normal 10—20 mmHg. Sedangkan bola mata kiri sampai tak bisa diukur.

Kondisi itu membuat Bambang terbatas hanya bisa melihat objek berjarak kurang dari 2 meter. “Itu pun samar-samar,” katanya. Dokter menyarankan Bambang kembali menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan mata dengan memasang saluran buatan. Bambang juga mengalami pengentalan darah di mata kirinya sehingga harus menjalani terapi pengenceran sebelum pemasangan saluran. Keluarga Bambang keberatan untuk menjalani tindakan operasi. Keputusan itu justru memperparah kondisi kakek 82 tahun itu.

Daun kelor dan glaukoma

Sang putri lalu mencari jalan kesembuhan lain. Perempuan 47 tahun itu mengetahui pemanfaatan kelor untuk penyembuhan penyakit mata yang dilakukan oleh Valentina Indrajati, herbalis di Bogor, Jawa barat. Menurut Valentina, daun kelor berefek deuretik sehingga mampu mengeluarkan racun dalam tubuh. “Cairan yang tersumbat di mata itu sifatnya racun sehingga harus dikeluarkan. Pengeluaran racun bisa lewat urine atau dari tempat di mana penyakit itu berada,” tutur herbalis yang kerap mengajar yoga di India dan Thailand itu.

Sang herbalis meresepkan serbuk daun kelor Moringa oleifera. Sebanyak 20 gram serbuk daun kelor direbus dalam 3 gelas air. Bambang meminum air rebusan itu 3 kali sehari sejak Juni 2011. Setelah dua pekan mengonsumsi, dari kelopak mata kirinya keluar cairan. Beberapa hari kemudian kejadian sama berulang. Berbarengan dengan itu rasa sakit yang hampir setiap hari mendera perlahan mulai berkurang.

Saat dihubungi Trubus pada 1 Agustus 2011, penglihatan Bambang mulai membaik. Ia sudah bisa melihat benda berjarak 5 meter. Kini tekanan bola mata kanannya turun menjadi 20 mmHg. Sedangkan tekanan bola mata kiri sudah bisa diukur.

Manfaat daun kelor sebagai obat herbal untuk mengobati glaukoma memang belum populer. Sebab dukungan penelitian mengenai penggunaan kelor untuk menyembuhkan glaukoma maupun penyakit mata lainnya masih terbatas. Andjarwati, herbalis di Jakarta Utara, lebih banyak meresepkan kelor untuk penyembuhan penyakit diabetes melitus, panas dalam dan memperlancar air susu ibu. Para herbalis justru lebih sering memanfaatkan kembang telang Clitoria ternatea dan kitolod Isotoma longiflora untuk pengobatan penyakit mata.

Retno menuturkan glaukoma dapat disembuhkan dengan mengonsumsi obat-obatan atau operasi. “Obat-obatan dari bahan herbal mungkin bisa membantu penyembuhan glaukoma. Namun, sampai saat ini belum ada bukti klinisnya,” kata Retno. Meski demikian Bambang merasakan khasiatnya. Oleh karena itu hingga kini, veteran itu masih rutin mengonsumsi air rebusan daun kelor demi penglihatan lebih benderang. (Andari Titisari)

Daun Kelor untuk mengatasi pegal

Param pegal

Keandalan kelor mengatasi berbagai keluhan kesehatan juga sudah dirasakan banyak orang di berbagai daerah. Zaenal Gani di Malang, Jawa Timur, misalnya meresepkan kelor untuk mengatasi pegal-pegal. Daun dihaluskan bersama garam lalu dioleskan ke bagian tubuh yang pegal. “Kelor biasanya dipakai dalam pengobatan penyakit yang berhubungan dengan metabolisme tubuh seperti asam urat dan penyakit berhubungan dengan pencernaan,” tutur Sidi Aritjahja, dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta.

Akar kelor berkhasiat menyembuhkan nyeri, rematik, dan asam urat sebagai mana diresepkan oleh Wahyu Suprapto. Riset di berbagai negara menunjukkan kelor berkhasiat membantu mengatasi kanker, mengontrol gula darah, hingga membantu memperbaiki kondisi pasien HIV/AIDS.

Yang tidak kalah penting tentu saja pemanfaatan biji kelor sebagai penjernih air permukaan (kolam, sungai, danau). Itu sejalan dengan riset yang dilakukan di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung sejak 1980-an. Biji kelor dibuat menjadi bubuk lalu ditambah air hingga menjadi pasta. Pasta itu yang dimasukkan ke dalam air sebagai koagulan, penyerap kotoran. Tanaman kelor juga mampu hidup di tanah minim air dan menjadi pohon perintis yang memberi lingkungan tumbuh yang kondusif untuk tanaman-tanaman lain.

Prof Dr Johan Iskandar, guru besar etnobotani di Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Padjadjaran menyebut masyarakat di Desa Pasirbiru, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, kerap menggunakan kelor untuk mengobati penyakit cacingan pada ternak kambing, domba, dan sapi. Caranya daun kelor dibakar lalu dicampur dengan air dan diminumkan pada ternak.

Sayangnya, sejuta manfaat pohon mukzijat itu tak banyak dilirik. Kini kian sulit menemukan pohon kelor tumbuh di halaman-halaman rumah penduduk . Pantas bila banyak orang sekarang sekadar mengenal namanya yang kerap disebut dalam pepatah Dunia Tak Selebar Daun Kelor. (Evy Syariefa/Peliput: Dahlia, Faiz Yajri, & Silvia Hermawati)

Khasiat Daun Kelor Sudah Teruji

Manfaat kelor sebagai hepatoprotektor telah teruji di laboratorium. Itu adalah hasil riset Buraimoh dan rekan di Fakultas Kedokteran, Universitas Ahmadu Bello, Nigeria, yang menguji khasiat daun kelor secara praklinis. Periset itu membagi 15 tikus dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor. Kelompok 1 sebagai kontrol: mereka menginduksi air suling pada satwa percobaan itu. Kelompok 2 sebagai kontrol negatif, induksi 1 g parasetamol per kg bobot tubuh selama 10 hari. Kelompok 3: induksi parasetamol 1 g per kg bobot tubuh dan 500 mg per kg bobot tubuh ekstrak daun kelor selama 10 hari. Pemberian parasetamol untuk merusak hati.
Hasilnya, pemberian ekstrak daun kelor memiliki kemampuan hepatoprotektif. Itu terlihat dari kelompok yang diinduksi ekstrak daun kelor, mengalami nekrosis sel hati lebih sedikit daripada grup yang tidak diinduksi ektrak kelor. Periset itu menduga kandungan fenol, kumarin, lignan, miyak esensial, monoterpen, karotinoid, glikosida, flavonoid, asam organik, alkaloid, dan xanthenes berperan besar dalam melindungi hati dengan memperbaiki fungsi sel-sel hati.
Para herbalis seperti Bruri Mahendra, di Depok, Jawa Barat, menggunakan kelor untuk mengobati hepatitis. Ia meresepkan secara kombinasi untuk mempercepat proses penyembuhan. “Kelor dapat berfungsi sebagai hepatoprotektor,” ujarnya. Mahendra meresepkan 15 gram daun kelor dan herbal lain seperti temulawak dan sambiloto kepada pasien hepatitis. Keluarga merebus herbal itu dalam
600 ml air hingga mendidih selama 15 menit, menyaring, dan memberikan kepada pasien. Frekuensi konsumsi 2 kali, jika sudah kronis 3 kali sehari, masing-masing 300 ml setara 1 gelas. Untuk mengurangi rasa pahit dapat juga ditambahkan madu.
Menurut Mahendra anak-anak juga dapat minum ramuan kelor. Untuk anak usia 5—7 tahun, konsumsinya setengah dosis orang dewasa. Kelor atau marunggai merupakan tanaman yang berasal dari India bagian selatan. Tanaman anggota famili Moringaceae itu tumbuh baik di ketinggian 300—500 meter di atas permukaan laut. Limaran—sebutan kelor di Jawa—berbentuk pohon dan sering digunakan sebagai tanaman pagar. Dalam dunia herbal, kelor berfungsi menjadi pagar hati dari serbuan hepatitis. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Dian Diani Tanjung)

Tren daun kelor

Pemanfaatan daun kelor untuk obat herbal alami kini terbukti kian meluas di berbagai daerah. Kondisi itu mendorong Muslihuddin dan Gatot Santosa membuka kebun kelor 1 ha di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Agustus 2009. Jangan bayangkan tanaman kelor yang tinggi menjulang. Kelor budidaya tak lebih dari 75 cm karena pekebun kerap memanen seperti teh. Dari kebun itulah mereka mengekstrak kelor. Produksinya baru 200 botol – masing-masing 30 kapsul – per bulan.

Dalam waktu dekat, Gatot Santosa bersiap memenuhi permintaan rutin importir dari India yang mencapai 25.000 botol per bulan. Produksi ekstrak kelor itu mereka lakukan setelah Muslihudin, karyawan Freeport Indonesia di Timika, Provinsi Papua, terbelalak mengetahui khasiat kelor dari dunia maya. “Kita bisa membantu masyarakat untuk memproduksi herbal asal kelor,” kata Muslihudin.

Salman Rizki di Surabaya rutin mengirimkan ekstrak kelor ke Filipina sejak 2005. Ia memperoleh bahan baku dari daerah di sekitar Surabaya seperti Pasuruan dan Mojokerto. Sayang, ia merahasiakan rendemen dan harga jual. Salman mengirimkan rata-rata 400 kg ekstrak daun kelor per bulan. Kaum ibu di Filipina memberikan malunggay alias kelor kepada bayi-bayi mereka. Mereka menyebut kelor sebagai “teman ibu yang baik”.

Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, kelor memang sohor sebagai bahan pangan. Rodney Perdew yang tinggal di Arizona, Amerika Serikat, membudidayakan kelor di Arizona dan Meksiko – lebih dari 80.000 tanaman. Ia mengolah kelor menjadi teh, kapsul, dan minyak. “Sejak dua tahun lalu, terjadi peningkatan pertumbuhan 50% per tahun,” kata Rodney.

Bila Anda membutuhkan kapsul daun kelor, klik di sini

Ia tertarik mengebunkan komoditas itu karena, “Kelor merupakan sumber pangan yang hebat, sekaligus bahan kosmetik dan obat,” kata Rodney kepada wartawan Trubus Tri Istianingsih. Itu bukti bahwa kelor memang tanaman serbaguna: daun, kulit batang, polong, akar, bahkan getahnya pun berkhasiat obat. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andari Titisari, Imam Wiguna, Pranawita Karina, & Tri Susanti)

Sumber:

[1] www.trubus-online.co.id/kelor-sejuta-khasiat/

[2] www.trubus-online.co.id/di-bawah-lindungan-kelor/

[3] www.trubus-online.co.id/pucuk-sampai-akar-manjur/

[4] www.trubus-online.co.id/benderang-karena-kelor/

[5] www.trubus-online.co.id/bukan-melulu-magis/

[6] www.trubus-online.co.id/si-manis-lekas-pergi/

Comments

You may also like...

2 Responses

  1. muhtadia says:

    aku suka

  2. Kurniawan says:

    Apa bisa untuk penyembuhan gagal ginjal?

Leave a Reply