Kisah Fiktif: Cerita Uang Seribu dan Seratus Ribu


Untuk belanja madu murni, madu herbal, dan obat-obatan herbal alami lainnya,
silahkan klik http://berkhasiat.web.id/jualan/

Kisah Uang seribu dan seratus ribu [1]

Kisah Fiktif: Cerita Uang Seribu dan Seratus Ribu

seribu : Enak ya jadi kamu…… Selalu berkeliaran di tempat mewah……
seratus ribu : Emang bener aku selalu ditempat mewah, tapi aku juga sering digunakan untuk maksiat. Buat menyuap, buat berbohong, buat narkoba……. Sebenernya aku pengen deh sekali-kali seperti kamu…….. Sering masuk ke dalam kotak amal…….. Tapi sangat jarang orang yang mau memasukkan aku ke kotak amal.
seribu : Hmmm… Betul juga yaaa, aku sering dikasih ke pengemis, pengamen…….. Trus aku hampir setiap hari masuk kotak amal…..
seratus ribu : Mudah mudahan setelah orang baca status ini banyak orang yg mau memasukan aku ke dalam kotak amal juga… Biar berkah!
seribu : Amiiiiiiiinnnnnnnnnn…….



مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti [1] bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’” [2]

Penjelasan [3]:
[1] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Pengganti itu lebih baik disamarkan agar mencakup pengganti dalam bentuk harta dan pahala, karena berapa banyak orang yang berinfak, dia wafat sebelum mendapatkan balasan berupa harta di dunia, maka penggantinya adalah berupa pahala di akhirat, atau dia dihalangi dari kejelekan.” (Fat-hul Baari III/305). Jadi gantinya tidak selalu dengan harta.
[2] Shahiih al-Bukhari dan Muslim.
[3] http://almanhaj.or.id/content/3300/slash/0/doa-para-malaikat-bagi-orang-yang-berinfak-agar-mereka-mendapatkan-pengganti-apa-yang-diinfakkannya/

Jadilah hamba yang dermawan semampu anda karena anda akan mendapat do’a tersebut bagaimanapun kondisinya.


Ada Kisah Fiktif Lainnya [2] yang Menarik antara Cerita Uang seribu dan seratus ribu. Semoga bisa diambil manfaat dari kisahnya.

Uang seribu dan seratus ribu sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat. Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda. di antara kedua uang tersebut terjadilah percakapan.

Kemudian uang seratus ribu bertanya kepada uang seribu, “Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis…? “

Dijawablah oleh uang seribu, “Karena aku begitu keluar dari Bank langsung berada di tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis.”

Lalu uang seribu bertanya balik kepada uang seratus ribu, “Kenapa kamu masih kelihatan seperti baru, rapi dan masih bersih? “

Uang seratus ribu pun menjawab, “Yaaa… Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restauran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet, kecuali di tempat-tempat tertentu.”

Lalu uang seribu bertanya lagi, “Pernahkah engkau mampir di tempat Masjid dan tangan anak-anak Yatim?”

“Belum pernah!@#$%^&*,” jawab uang seratus ribu.

Uang seribu pun berkata lagi, “Ketahuilah bahwa walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap Jum’at aku selalu mampir di Masjid-masjid, dan di tangan anak-anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang manusia bukan karena sebuah nilai tapi karena manfaat.”

Setelah mendengar perkataan dari uang seribu itu, uang seratus ribu akhirnya menangis karena merasa besar, hebat, tinggi akan tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Moral Cerita Uang Seribu dan Seratus Ribu

“Jadi bukan seberapa besar penghasilan Anda, tapi seberapa bermanfaat penghasilan Anda itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri segala nikmat dan berusaha memberi manfaat untuk semesta dan dijauhkan dari sifat sombong.”

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).

Sumber Gambar & Cerita Uang Seribu dan Seratus Ribu:

[1] http://saaidb.wordpress.com/2012/10/28/percakapan-uang-rp-1000-rp-100-000/
[2] https://keblim.wordpress.com/2013/05/23/kisah-antara-uang-seribu-seratus-ribu/

Comments

You may also like...

Leave a Reply