Tanaman Kencana Ungu / Pletekan sebagai Obat Herbal Diabetes


Untuk belanja madu murni, madu herbal, dan obat-obatan herbal alami lainnya,
silahkan klik http://berkhasiat.web.id/jualan/

Pletekan, mungkin masih banyak yang asing dengan nama tanaman ini. Tetapi hampir sebagian besar orang pernah melihat tanaman ini secara langsung, namun tidak pernah terbayang sebelumnya akan manfaat besar dari tanaman ini.

Nama lainnya, Ruellia Tuberosa L, pletekan, pletikan, ceplikan (Jawa), Kencana Ungu (Lampung), Ptetekan, Ceplesan. Untuk daerah lain yang belum diketahui namanya, bisa melihat dari bentuk tanamannya di gambar berikut:

Tanaman Ruellia, Pletekan, Ceplikan, Kencana Ungu

Ciri khas tanaman ini adalah selain bunganya yang berwarna ungu, bijinya yg berbentuk lonjong berwarna hijau dan ketika tua berubah berwarna coklat. Letak uniknya adalah pada saat biji yg berwarna coklat ini dimasukkan ke dalam air, atau terkena air ludah, maka dalam hitungan 3, 4, atau sekitar 5 detik bijinya akan pecah meletek, salah satu sebab kenapa dinamakan tanaman pletekan.

Terinspirasi dari thread diskusi di kaskus tentang tanaman yang ampuh untuk diabetes dan khasiatnya menurunkan gula darah dibuktikan sendiri oleh orang tuanya. Tapi juga ada efek samping, lihat di akhir artikel.

Dalam trit tersebut, orang tua TS terkena penyakit Diabetes yang sangat tinggi yaitu kisaran 400-500 sedangkan pada orang normal akan melebihi 120 mg/dl dan penyakit diabetes sudah diderita orang tuanya selama 4-5 tahun. setelah berobat kemana-mana namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan akhirnya mereka berobat secara alternatif dan disarankan untuk mengkonsumsi rebusan daun kencana ungu / pletekan secara teratur. Setelah beberapa waktu mengkonsumsi rebusan daunya orang tua TS ternyata kadar gula darahnya bisa normal kembali.

Berikut ini cara membuatnya:

Alat dan bahan
1. Wadah untuk merebus daun sebaiknya terbuat dari kaca / keramik / tanah liat / stainless steel
2. Air putih bersih (bisa air matang ataupun air mentah).
3. Daun Pletekan secukupnya, kira-kira menutupi permukaan wadah.

Cara membuat
1. Cuci bersih daun pletekan yang sudah dicabuti dari batangnya
2. Rebus daun pletekan dengan air sekitar 500ml sampai mendidih sampai tersisa 1/2 nya.
3. Matikan api setelah air mendidih, dinginkan.
4. Saring air rebusan.

Minum air rebusan yang sudah disaring sebanyak 1 gelas setiap pagi dan sore hari.
Sambil tetap memeriksa kembali gula darah nya 1-2 hari kemudian, jika sudah normal bisa berhenti konsumsi daun kencana ungu ini.

Berikut ini informasi yang didapat dari WIKIPEDIA

Ruellia tuberosa
Conservation status: Least Concern (IUCN 3.1)
Scientific classification
Kingdom: Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Eudicots
(unranked): Asterids
Order: Lamiales
Family: Acanthaceae
Genus: Ruellia
Species: R. tuberosa
Binomial name
Ruellia tuberosa
L.
Synonyms
Cryphiacanthus barbadensis Nees
Dipteracanthus clandestinus C.Presl[1]
Ruellia clandestina L.[2]
Ruellia picta (Lodd. et al.)

Ruellia tuberosa, also known as Minnie Root, Fever Root, Snapdragon Root and Sheep Potato (Thai: ต้อยติ่ง), is a species of flowering plant in the Acanthaceae family. Its native range is in Central America but presently it has become naturalized in many countries of tropical South and Southeast Asia.[3]

It is a small biennial plant with thick fusiform tuberous roots and striking funnel-shaped violet-colored flowers. It reaches an average height of about 25 cm in moist and shady environments. It grows often as a weed even in ruderal habitats. Its names Popping Pod, Duppy Gun and kracker Plant come from the fact that children like to play with the dry pods that pop when rubbed with spit or water.[4]

In animal models, this plant has antinociceptive and anti-inflammatory properties.[5]

In folk medicine[6] and Ayurvedic medicine[7] it has been used as a diuretic, anti-diabetic, antipyretic, analgesic, antihypertensive, gastroprotective, and to treat gonorrhea.[8] It is also used as a natural dye for textiles.[9]

Khasiat tanaman pletekan sebagai tanaman herbal diabetes ini juga didukung beberapa penelitian yang menguatkan bukti secara ilmiahnya dalam menurunkan kadar gula pada penderita diabetes.

Dalam pengobatan tradisional, Ruellia tuberosa L telah digunakan sebagai diuretic, anti-diabetes, antipyretic, analgesic, antihypertensive, serta antidotal agen. (Ullah, 2012) .

Daun dan akar tumbuhan pletekan (Ruellia tuberose L) mengandung saponin. Saponin merupakan kelompok senyawa dalam bentuk glikosida terpenoid atau steroid. Pembentukan busa yang mantap sewaktu mengekstrasi tumbuhan atau waktu memekatnya ekstrak tumbuhan merupakan bukti adanya saponin. Disamping itu, daunnya juga mengandung polifenol dan akarnya mengandung flavonoida. Ekstrak Ruellia tuberose L dapat berperan sebagai hydrogen atau electron donor dan bereaksi dengan radikal bebas, mengubahnya kedalam produk yang lebih stabil sehingga mampu menghentikan reaksi rantai radikal tersebut. Aktivitas antioksidan dari Ruellia tuberose L merupakan sumber alami phenolic antioksidan untuk antioksidan nutraceutical. Sehingga, Ruellia tuberosa L dapat dikembangkan sebagai antioksidan yang efektif untuk melawan beberapa penyakit degenerasi oksidatif seperti kanker ataupun penyakit liver yang merupakan pemicu timbulnya diabetes mellitus. (B Arirudran et al., 2011)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ullah, et.al (2011) dengan menggunakan hewan coba kelinci, diketahui bahwa toksisitas pada penggunaan esktrak methanol dari Ruellia tuberosa L adalah jika digunakaan melebihi dosis 5000 mg/kg. Hal ini mengindikasikan bahwa tanaman ini bukanlah tanaman beracun. Lebih lanjut, mereka menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang timbul dan teramati pada berbagai macam dosis perlakuan hingga penelitian mereka berakhir.

Dari keterangan diatas cukup jelas akan potensi dari tumbuhan tropis ini sebagai obat alternatif yang bisa dikembangkan untuk menagatasi diabetes mellitus. Mengingat tidak semua orang cukup punya uang untuk membeli insulin dan melakukan perawatan lain, maka diharapkan dengan potensi yang tersedia, tumbuhan ini bisa menjadi jawaban akan mahalnya treatment penyakit diabetes mellitus.

Namun dalam penelitian lainnya, perlu diperhatikan penggunaannya pada penderita diabetes dengan komplikasi ginjal.

Pengaruh pemberian ekstrak air daun ceplikan (Ruellia Tuberosa L) terhadap kadar kreatinin dan ureum dalam serum serta gambaran histologis ginjal tikus putih (Rattus Norvegitus) diabetes mellitus, menyebutkan:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh EADC terhadap penurunan ureum dan kreatinin tikus normal tetapi meningkat secara signifikan pada tikus DM dengan penurunan fungsi ginjal (p<0,050) ; Organ ginjal tikus DM mengalami kerusakan tubulus secara bermakna.
Kesimpulan : EADC meningkatkan ureum dan kreatinin serum secara signifikan dan menimbulkan efek samping terhadap fungsi dan morfologis ginjal tikus DM dengan penurunan fungsi ginjal, sehingga daun ceplikan bisa digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradional DM pada jalur non formal dengan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan fungsi ginjal dan tetap memperhatikan pengaturan diet dan latihan jasmani secara teratur.

sumber:
http://ojiedarojie.blogspot.co.id/2013/10/pletekan-tanaman-liat-penggempur.html
http://muhammadamanaf-fst13.web.unair.ac.id/artikel_detail-107949-Bahasa%20Indonesia-POTENSI%20TUMBUHAN%20Ruellia%20tuberose%20L%20UNTUK%20MENURUNKAN%20KADAR%20GULA%20DARAH%20PADA%20PENDERITA%20%20DIABATES%20MELLITUS%20TIPE%20II.html
http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=37861

gambar:
http://www.stuartxchange.org/Ruellia.html

Comments

You may also like...

Leave a Reply